Dua Perempuan di Balik Panggung Balinale
Di sebuah industri yang selama bertahun-tahun lebih banyak dipimpin laki-laki pada level pengambil keputusan, dua perempuan berdiri di balik salah satu festival film paling berpengaruh di Indonesia. Mereka adalah Deborah Gabinetti dan Yoke Darmawan, dua sosok yang berperan penting dalam perjalanan Bali International Film Festival atau Balinale hingga menjadi festival film berstatus Oscar Qualifying.
Peran keduanya berbeda, tetapi saling melengkapi. Deborah berada di garis depan sebagai pendiri dan penggerak utama festival. Selama hampir dua dekade, ia membangun Balinale dari sebuah festival independen menjadi platform perfilman yang mendapat perhatian komunitas film internasional.
Sementara itu, Yoke Darmawan berperan menghubungkan festival dengan publik, media, industri, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan melalui strategi komunikasi yang terarah.
Perjalanan Balinale sendiri tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak didirikan pada 2007, festival ini berkembang menjadi ruang yang mempertemukan sineas Indonesia dengan jaringan perfilman global. Melalui festival tersebut, berbagai karya dari Indonesia memperoleh kesempatan untuk tampil berdampingan dengan film-film dari berbagai negara.
Bagi Deborah, tujuan Balinale sejak awal tidak pernah semata-mata menghadirkan pemutaran film. Ada misi yang lebih besar yang ingin dibangun melalui festival tersebut.
“Balinale has always been about more than screening films. It is about creating connections, between cultures, between communities, and between people and stories that matter,” ujarnya.
Pandangan tersebut tercermin dalam perkembangan festival dari tahun ke tahun. Balinale — yang kali ini berlangsung 1-7 Juni 2026 di Sanur —, tidak hanya menjadi tempat menonton film, tetapi juga ruang pertemuan berbagai kalangan, mulai dari sineas muda, pelaku industri kreatif, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap dunia perfilman.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Balinale menghadirkan 94 film dari 38 negara. Berbagai pemutaran perdana dunia, internasional, dan Asia turut menjadi bagian dari program festival tersebut. Keberagaman karya yang hadir menunjukkan semakin luasnya jejaring yang berhasil dibangun selama hampir dua dekade terakhir.
Di balik capaian tersebut, terdapat pekerjaan yang berlangsung jauh dari sorotan layar. Membangun festival internasional tidak hanya membutuhkan kurasi program yang kuat, tetapi juga kemampuan menjaga hubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda. Di sinilah peran komunikasi menjadi sama pentingnya dengan kualitas program yang ditampilkan.
Yoke berada pada ruang kerja yang sering kali tidak terlihat penonton. Melalui komunikasi yang konsisten, ia membantu memastikan pesan, nilai, dan identitas Balinale dapat dipahami oleh audiens yang beragam, baik di dalam maupun luar negeri. Peran tersebut menjadi semakin penting ketika festival terus berkembang dan menjangkau komunitas internasional yang lebih luas.
Kolaborasi antara Deborah dan Yoke menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah festival tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di depan layar, tetapi juga oleh apa yang berlangsung di belakangnya. Di satu sisi terdapat visi yang membentuk arah perjalanan festival. Di sisi lain terdapat upaya membangun pemahaman dan keterhubungan dengan publik.
Dari Sanur, Bali, keduanya ikut membangun sebuah ruang yang mempertemukan berbagai cerita dari seluruh dunia. Melalui Balinale, film menjadi lebih dari sekadar tontonan. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan budaya, komunitas, dan manusia dari latar belakang yang berbeda.
source: https://swa.co.id/read/473374/dua-perempuan-di-balik-panggung-balinale